Sebuah tangisan kurasakan hanya sunyi di hati. Ketika air mata ini hendak keluar aku selalu mempertimbangkan, "untuk apa air mata ini? untuk siapa tangis perih ini?" kemudian kujawab sendiri, "ini adalah untuk cinta yang tak kunjung tiba."
Sebagai wanita normal, aku sangat merasakan ingin dicintai dan mencintai seseorang, bukan ayahku lagi, bukan mamaku lagi, bukan saudara-saudaraku lagi. Tapi ia adalah laki-laki perkasa nan shaleh dirinya dengan diam-diam meminangku lewat setangkai bunga mawar. Yang akan selalu mengingatkanku agar tetap di jalan_nya, yang senantiasa tersenyum padaku bila aku salah langkah dan dengan lembutya ia luruskan segala kata-kata sia-sia yang aku lontarkan.
Mimpi---mimpi--- itu adalah mimpi diriku -mungkin juga mimpi setiap wanita yang masih normal-
Dosakah bila aku jatuh cinta? Lalu aku resah menghadapi cinta itu. Rinduku melaut seluas debu yang digulung-gulung ombak. Bahkan mungkin cintaku berkabut hitam ternoda nafsu. Cinta Illahiku datang dan pergi tersapu angin malam. Bintang-bintang kecil yang memecah-mecah langit bersenandung kecil. Kutatap bulan yang masih samar tuk liarkan cahayanya.
Aku jatuh cinta, aku selami cinta itu, aku resapi kegalauanku, lalu datang berita, "Ia mencintai wanita lain," aku patah hati, aku diam membisu, lalu kucari cinta yang baru lagi.
Begitu terus...jatuh cinta lalu mati.
Kemudian aku putuskan untuk tidak menangisinya. Percuma, karena cinta yang baru pasti akan datang. Entah cinta yang putih atas asas cinta Illahi atau cinta berkabut hitam yang terselimuti nafsu?
Malam ini aku terkurung dalam angan, tercekat dalam mimpi yang tak bermanfaat. Orang bilang menikah itu butuh banyak persiapan. Lantas aku merasa takut dan tak pernah siap untuk menghadapinya. Tapi cinta--cinta itu datang dan pergi terus menerus...entah sampai kapan aku harus menunggu pinangan, tapi sampai kapan aku benar-benar siap menikah? Entahlah... saat ini aku baru menginjak usia 20 tahun. Masih panjang rasanya waktu bagiku untuk berbenah hati, berbenah jiwa, dan berbenah diri. Tapi bagaimana bila tulisan ini aku baca pada 10 tahun lagi? Dan saat itu aku masih sendiri...masih sendiri...Semoga cinta yang datang nanti tak lagi membuatku patah hati.
Atau aku benar-benar tak pernah mau jatuh cinta lagi. Sampai belahan jiwaku datang....